berita
27 Agustus 2026
Naufal Mamduh
Waduh! Warga Indonesia Mulai Kurangi Liburan ke Luar Negeri, Ada Apa?
Fenomena menarik terjadi di industri perjalanan Indonesia. Jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri tercatat turun signifikan pada kuartal II-2026, dari 2,5 juta orang menjadi 1,96 juta orang. Sebaliknya, jumlah pelawat yang masuk ke Indonesia justru meningkat dari 3,43 juta menjadi 4,01 juta orang.
Artinya, orang asing makin banyak datang ke Indonesia, tapi orang Indonesia sendiri makin menahan diri untuk pergi ke luar negeri. Ada apa?
Baca juga: Bikin Syok! Konsumsi RI Tumbuh 5%, Tetapi Apakah Ekonomi Kita Kebal dari Ancaman?
Daya Beli Melemah, Warga Jadi Ogah Liburan
Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Pauline Suharno, melihat sejumlah faktor ekonomi yang secara bersamaan menekan minat masyarakat untuk bepergian.
"Daya beli melemah, kenaikan harga tiket, kenaikan bahan baku, dan banyaknya lay off," kata Pauline kepada CNBC Indonesia.
Tekanan tidak hanya datang dari sisi pengeluaran. Kondisi aset finansial masyarakat juga ikut berpengaruh. Pergerakan pasar keuangan yang kurang menggembirakan, termasuk pelemahan nilai saham dan penurunan harga emas, turut mempengaruhi rasa percaya diri konsumen dalam mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan rekreasi.
Ketika nilai aset turun, orang cenderung lebih konservatif dalam pengeluaran yang sifatnya tidak mendesak. Dan liburan ke luar negeri, bagi sebagian besar masyarakat, termasuk dalam kategori itu.
Yang menarik, dampaknya tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Segmen menengah ke atas dinilai masih punya ruang yang cukup untuk mempertahankan anggaran perjalanan mereka. Tekanan lebih banyak dirasakan oleh segmen menengah ke bawah yang memang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Ini menjelaskan mengapa industri travel tidak serta-merta kolaps, tapi hanya mengalami perlambatan di segmen tertentu.
Data Bank Indonesia Konfirmasi Tren Ini
Penurunan jumlah pelawat ke luar negeri ini bukan sekadar persepsi. Data Bank Indonesia dalam Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal II-2026 mengonfirmasi tren tersebut secara kuantitatif.
Meski demikian, kinerja jasa perjalanan Indonesia secara keseluruhan masih mencatatkan surplus sebesar US$606 juta pada kuartal II-2026. Angka ini memang menyusut dari US$1,09 miliar pada kuartal I-2026, tapi surplus tetap ada. Artinya, secara agregat Indonesia masih lebih banyak menerima devisa dari kedatangan turis asing dibanding yang dikeluarkan masyarakat Indonesia untuk bepergian ke luar negeri.
Ada Sinyal Positif di Tengah Tekanan
Di tengah semua tekanan ini, ada sinyal yang cukup menggembirakan. Astindo Travel Fair yang berlangsung pada 20-23 Agustus 2026 mencatatkan hasil yang melampaui ekspektasi, naik 40% dibanding tahun lalu.
Ini mengindikasikan bahwa minat masyarakat untuk bepergian sebenarnya belum sepenuhnya padam. Yang terjadi lebih kepada pergeseran: masyarakat menjadi lebih selektif dan lebih terencana dalam memutuskan perjalanan, terutama untuk destinasi luar negeri yang butuh pengeluaran lebih besar.
Baca juga: Mantap Jiwa! Pemerintah Tebar Paket Stimulus untuk Perkuat Ekonomi RI, Ini Daftarnya!
Kesimpulan
Fenomena rem liburan ke luar negeri ini adalah cermin dari kondisi ekonomi yang sedang dirasakan sebagian masyarakat Indonesia. Daya beli yang tertekan, harga tiket yang naik, gelombang PHK, hingga pelemahan aset finansial, semuanya bermuara pada keputusan yang sama: tunda dulu liburan ke luar negeri.
Tapi industri travel belum mati. Selama ada momen yang tepat dan penawaran yang relevan, konsumen Indonesia tetap mau membuka dompet untuk pengalaman perjalanan yang mereka nilai sepadan.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






