berita
22 Agustus 2026
Naufal Mamduh
Makin Sangar! Purbaya Bidik Pertumbuhan 6% Lewat Strategi Baru Hadapi FTA
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak mau pemerintah terus-terusan defensif soal perdagangan bebas.
Mulai September 2026, Kemenkeu akan mengubah pendekatannya: bukan lagi hanya menghitung kerugian akibat FTA, tapi aktif memetakan sektor mana yang masih bisa diselamatkan, didorong, bahkan dikembangkan menjadi mesin pertumbuhan baru. Tujuannya satu: memacu pertumbuhan ekonomi minimal 6% di akhir 2026.
"Jadi bulan September ke depan kita ubah approach Kemenkeu dari potensi ekonomi termasuk free trade agar pertumbuhan ekonomi bisa laju kencang minimal di 6 persen di akhir 2026," kata Purbaya sebagaimana dikutip dari CNBC.
Tiga Nasib Industri, Satu Peluang Baru
Purbaya memetakan setidaknya tiga kemungkinan nasib industri yang terdampak perdagangan bebas.
Pertama, industri yang sudah tidak kompetitif dan pada akhirnya harus ditinggalkan. Kedua, industri yang masih bisa bertahan meski tumbuh terbatas. Ketiga, industri yang masih layak mendapat dukungan dan perlindungan agar kembali berkembang.
Baca juga: Menyala Abangku! Jurus Prabowo Subianto Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hingga 6%
Tapi ada kategori keempat yang menurutnya justru paling menarik: industri baru yang belum menjadi kekuatan utama Indonesia saat ini, tapi punya prospek pertumbuhan tinggi ke depan.
Salah satu contohnya adalah industri data center. Purbaya melihat Indonesia punya peluang besar menjadi tujuan investasi data center di kawasan, tapi hanya jika pasokan energi bisa dijamin. Kebutuhan energi menjadi faktor kunci dalam menarik investasi industri berbasis teknologi dan digital.
Peluang dari Eropa dan Energi Hijau
Selain data center, Purbaya juga melihat peluang dari tercapainya kesepakatan IEU-CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa. Tren penggunaan energi terbarukan di Eropa bisa menjadi keunggulan kompetitif bagi industri Indonesia yang mau beradaptasi.
Sektor tekstil dan alas kaki disebut sebagai contoh konkret. Jika proses produksinya menggunakan energi hijau, peluang ekspor ke Eropa akan jauh lebih terbuka.
Untuk itu, pemerintah membuka peluang memperbesar investasi di sektor panas bumi melalui PT Geo Dipa Energi.
"Saya kan punya Geo Dipa, saya bisa drill lebih banyak geotermal, saya investasi di situ untuk memberi energi ke suatu pusat industri tekstil atau industri tekstil yang sudah ada, sehingga dia bisa ekspor ke Eropa dengan lebih kompetitif," ujar Purbaya.
FTA Bukan Ancaman, Tapi Peluang
Purbaya menegaskan pemerintah tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa perdagangan bebas hanya membawa ancaman. FTA justru harus dimanfaatkan untuk menemukan sektor yang berpotensi tumbuh, menarik investasi baru, meningkatkan daya saing, dan memperluas pasar ekspor.
Dengan pendekatan baru ini, pemerintah berharap bisa mengubah tantangan perdagangan bebas menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat industrialisasi nasional.
Baca juga: Mantap! Menkeu Purbaya Yakin Mesin Baru Ini Bisa Dongkrak Ekonomi RI hingga 8 Persen
Kesimpulan
Perubahan pendekatan Kemenkeu dalam menghadapi FTA adalah langkah yang realistis. Daripada terus defensif, pemerintah mulai fokus pada apa yang bisa dimenangkan. Data center, energi hijau, tekstil berbasis geothermal semuanya adalah peluang nyata yang tinggal dieksekusi dengan baik. Apakah target 6% bisa tercapai? Jawabannya akan terlihat di angka pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV 2026.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






