pendanaan

calendar_today

26 Maret 2026

account_circle

Naufal Mamduh

Cekidot! Bedah Modal Bisnis Jual Beli Hewan Kurban, Beneran Untung Atau Buntung?

Idul Adha 1447 Hijriah atau 2026 membuka peluang besar di bisnis hewan kurban. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar memiliki permintaan tinggi setiap tahunnya, dengan perputaran uang yang besar dalam waktu singkat.

Bisnis ini cocok untuk pengusaha pemula maupun yang sudah existing. Kuncinya ada di pengelolaan pasokan, kualitas hewan, dan distribusi. Untuk scale up, akses pendanaan menjadi penting. Melalui LBS Urun Dana, pengusaha bisa mendapatkan pendanaan untuk memperluas usaha. Mari ketahui lebih lanjut seputar bisnis jual beli hewan kurban.

Prospek Bisnis Hewan Kurban di Indonesia 

Permintaan sapi kurban nasional pada Idul Adha 2025 meningkat sekitar 5-10% dibanding tahun sebelumnya sebagaimana dikutip dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Kenaikan ini menunjukkan bahwa bisnis kurban tetap menjanjikan, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan PHK yang masih membayangi. Artinya, kebutuhan pasar terhadap hewan kurban masih kuat dan menjadi sinyal positif bagi pengusaha yang ingin masuk atau memperluas usaha di sektor ini.

Kondisi tersebut juga menjadi gambaran bahwa bisnis kurban pada 2026 berpeluang menunjukkan tren yang serupa. Selama daya beli tetap terjaga dan kebutuhan ibadah kurban terus tinggi, usaha jual beli hewan kurban masih memiliki prospek yang menarik. 

Mau Main di Bisnis Jual Beli Hewan Kurban? Ini yang Perlu Anda Cek! 

Banyak yang mengira bisnis hewan kurban harus langsung besar. Padahal, Anda bisa mulai dari kapasitas yang sesuai dengan modal dan pengalaman. Justru di sinilah kuncinya, mulai dari yang tepat, bukan yang besar.

1. Mulai Kecil, Tapi Tetap Cuan

Untuk Anda yang baru masuk ke usaha hewan kurban, mulai dari kapasitas kecil adalah langkah yang realistis. Cukup dengan 5 hingga 15 kambing dan 1 hingga 2 sapi, Anda sudah bisa mulai masuk ke pasar.

Modalnya masih terjangkau, risikonya lebih terkendali, dan operasionalnya tidak rumit. Ini jadi fase belajar yang penting, sambil membangun kepercayaan pasar dari lingkungan sekitar.

2. Naik Level, Main Lebih Besar

Kalau Anda sudah punya pengalaman dan jaringan, saatnya menaikkan kapasitas. Bisnis hewan kurban di level ini bisa melibatkan puluhan hingga ratusan ekor.

Baca juga: Satset! Panduan Lengkap Cash Flow Perusahaan dari Pengertian hingga Strateginya

Targetnya pun berbeda. Bukan lagi perorangan, tapi masjid besar, yayasan, hingga perusahaan. Modal memang lebih besar, tapi potensi keuntungan juga ikut naik. Di titik ini, usaha hewan kurban mulai terasa sebagai bisnis serius, bukan sekadar musiman.

3. Jangan Asal Jual, Kenali Siapa Pembeli Anda

Di bisnis hewan kurban, yang sering terlewat justru ini: memahami target pasar. Setiap pembeli punya preferensi berbeda. Ada yang fokus harga, ada yang mementingkan kualitas, ada juga yang mencari kemudahan proses.

Kalau Anda paham siapa yang Anda bidik, strategi jualan jadi lebih tepat. Mulai dari memilih hewan, menentukan harga, sampai cara promosi, semuanya jadi lebih terarah.

6 Komponen Modal Usaha Jual Beli Hewan Kurban

Memulai bisnis hewan kurban tidak hanya soal membeli lalu menjual. Di baliknya, ada beberapa komponen biaya yang perlu Anda pahami agar perhitungan modal lebih terarah dan tidak meleset.

Dengan memahami struktur biaya sejak awal, Anda bisa menentukan langkah yang lebih tepat, baik untuk pemula maupun pengusaha yang ingin berkembang.

1. Pembelian Hewan

Bagian ini menjadi komponen terbesar dalam usaha hewan kurban. Harga hewan sangat dipengaruhi oleh jenis, bobot, dan kualitasnya. Sebagai gambaran, kambing bisa berada di kisaran Rp2,8 juta hingga Rp4,5 juta per ekor. Sementara sapi berada di rentang Rp17 juta hingga Rp28 juta per ekor.

Membeli lebih awal seringkali memberikan harga yang lebih kompetitif. Pastikan juga hewan dalam kondisi sehat dan memenuhi syarat kurban.

2. Kandang dan Penitipan

Setelah pembelian, Anda perlu menyiapkan tempat untuk merawat hewan hingga hari penjualan. Biaya sewa kandang biasanya berada di kisaran Rp1,2 juta hingga Rp3,5 juta per minggu, tergantung lokasi dan kapasitas. 

Jika memilih membangun kandang sendiri, estimasinya bisa mencapai Rp6 juta hingga Rp12 juta. Kondisi kandang yang baik akan menjaga kesehatan hewan dan membantu menjaga kualitasnya.

3. Pakan dan Perawatan

Selama masa pemeliharaan, pakan menjadi biaya rutin yang cukup signifikan. Kambing membutuhkan biaya sekitar Rp12 ribu hingga Rp18 ribu per hari. Sementara sapi bisa mencapai Rp35 ribu hingga Rp60 ribu per hari.

Dalam periode sekitar tiga minggu, total biaya pakan kambing bisa mencapai Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per ekor. Untuk sapi, bisa berada di kisaran Rp1,2 juta hingga Rp1,8 juta. Perawatan yang konsisten akan berpengaruh langsung pada nilai jual.

4. Transportasi

Biaya transportasi sering tidak diperhitungkan di awal, padahal cukup penting. Pengangkutan dari peternak biasanya berkisar Rp600 ribu hingga Rp1,8 juta. Sementara pengiriman ke pembeli bisa berada di kisaran Rp250 ribu hingga Rp600 ribu per ekor. Jarak dan akses lokasi menjadi faktor utama dalam menentukan biaya ini.

Baca juga: Lapor! 10 Tantangan Bisnis 2026 dan Solusi Pendanaan Cepat untuk Usaha Ngegas

5. Tenaga Kerja

Jika jumlah hewan yang dikelola semakin banyak, kebutuhan tenaga kerja juga ikut meningkat. Biaya tenaga harian berkisar Rp120 ribu hingga Rp180 ribu, terutama saat mendekati hari penjualan.

6. Pemasaran

Promosi menjadi kunci agar hewan cepat terjual. Biaya promosi bisa dimulai dari Rp150 ribu untuk media fisik, hingga Rp700 ribu sampai Rp2,5 juta untuk iklan digital. Namun, kanal gratis seperti WhatsApp dan komunitas tetap bisa menjadi strategi efektif. Pada akhirnya, bisnis hewan kurban bukan hanya soal besar kecilnya modal, tetapi bagaimana Anda mengelolanya dengan tepat dan efisien.

Cara Hitung Modal Awal Jual Beli Hewan Kurban

Menghitung modal awal dalam bisnis hewan kurban tidak cukup hanya melihat harga beli hewan. Ada beberapa komponen biaya lain yang perlu diperhitungkan agar Anda tidak salah estimasi di awal. Agar lebih mudah dibayangkan, berikut contoh sederhana jika Anda memulai usaha hewan kurban dengan 8 kambing dan 3 sapi:

a. Pembelian 8 kambing @Rp3.200.000 = Rp25.600.000
b. Pembelian 3 sapi @Rp22.000.000 = Rp66.000.000
c. Sewa kandang selama 3 minggu = Rp2.500.000
d. Pakan kambing (8 x Rp450.000) = Rp3.600.000
e. Pakan sapi (3 x Rp1.400.000) = Rp4.200.000
f. Transportasi pembelian dan distribusi = Rp1.800.000
g. Tenaga bantu 1 orang (6 hari) = Rp900.000
h. Biaya promosi = Rp1.000.000

Total estimasi modal awal: Rp105.600.000

Angka ini tentu bisa berubah, tergantung jumlah hewan, lokasi, dan cara Anda menjalankan usaha. Semakin efisien pengelolaan, semakin besar peluang margin yang bisa didapatkan.

Berapa Margin Ideal yang Bisa Didapatkan?

Dengan modal sekitar Rp105.600.000, margin keuntungan sangat bergantung pada efisiensi pengelolaan dan strategi penjualan.

Sebagai gambaran:

Kambing: Rp300.000 – Rp700.000 per ekor
Sapi: Rp1.500.000 – Rp3.000.000 per ekor

Jika dijumlahkan:

8 kambing → Rp2.400.000 – Rp5.600.000
3 sapi → Rp4.500.000 – Rp9.000.000

Total potensi keuntungan: Rp6.900.000 – Rp14.600.000

Dari total modal Rp105.600.000, margin yang bisa didapat:

a. ±7% → konservatif
b. ±10% – 14% → ideal

Margin sehat di bisnis ini umumnya berada di kisaran 10% – 15% dari total modal.

Tips Mengelola Modal Usaha Jual Beli Hewan Kurban

Dalam bisnis jual beli hewan kurban, pengelolaan modal bukan hanya soal keluar dan masuk uang, tetapi bagaimana memastikan pendanaan yang digunakan tetap efisien dan berputar dengan sehat.

1. Hindari Menumpuk Stok, Fokus pada yang Bisa Terjual

Dalam bisnis hewan kurban, membeli terlalu banyak tanpa perhitungan bisa menjadi beban. Stok yang tidak terjual akan menambah biaya pakan, meningkatkan biaya perawatan dan menekan margin keuntungan. 

Karena itu, pastikan jumlah pembelian disesuaikan dengan potensi permintaan, tren pasar dan kemampuan distribusi. Pendekatan ini membantu menjaga pendanaan usaha tetap efisien.

2. Siapkan Strategi Cadangan Sejak Awal

Tidak semua transaksi dalam jual beli hewan kurban berjalan sesuai rencana. Jika stok tidak habis terjual, Anda bisa menjual ke rumah makan dan mengolah dan menjual dalam bentuk daging. Strategi ini penting agar pendanaan yang sudah dikeluarkan tidak terhenti dan tetap menghasilkan.

3. Sediakan Dana Darurat untuk Risiko Tak Terduga

Dalam usaha hewan kurban, risiko seperti hewan sakit atau biaya tambahan tidak bisa dihindari. Tanpa perencanaan, hal ini bisa mengganggu arus pendanaan bisnis. Karena itu sisihkan dana cadangan, siapkan biaya tak terduga dan pastikan operasional tetap berjalan stabil.

4. Catat Semua Transaksi untuk Menjaga Arus Pendanaan

Pencatatan keuangan menjadi kunci dalam menjaga kesehatan bisnis. Dalam praktik jual beli hewan kurban, banyak biaya kecil yang sering terlewat, seperti pakan, transportasi dan perawatan. 

Dengan pencatatan yang rapi, Anda bisa mengontrol arus pendanaan, menjaga efisiensi biaya dan memaksimalkan keuntungan. Dalam bisnis hewan kurban, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya modal, tetapi bagaimana pendanaan tersebut dikelola secara tepat.

Solusi Pendanaan Bisnis Rp500 Juta - Rp10 Miliar Cair Cepat!

Bagi Anda yang ingin mengembangkan usaha lebih jauh, memanfaatkan skema pendanaan seperti LBS Urun Dana bisa menjadi salah satu solusi untuk memperluas skala bisnis dengan tetap menjaga prinsip efisiensi dan keberlanjutan.

LBS Urun Dana menghadirkan program FAST 17, solusi pendanaan proyek mulai dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar dengan proses pencairan hingga 17 hari kerja, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.

Program ini diawasi oleh OJK dan dibimbing oleh Founder LBS Urun Dana dan Pakar Fikih Muamalah Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA. Dengan model pendanaan berbasis sukuk dan saham, pengusaha dapat memperoleh modal tanpa menggadaikan aset pribadi. Pendanaan ini membantu menjaga cash flow tetap stabil sekaligus mendukung penyelesaian proyek dan ekspansi usaha. Program FAST 17 dirancang untuk pengusaha skala menengah hingga besar yang membutuhkan modal cepat, terstruktur, dan transparan.

Sektor Usaha yang Dapat Mengajukan Pendanaan

Selain bisnis jual beli hewan kurban, pendanaan tersedia untuk berbagai sektor usaha produktif lainnya seperti:

a. Transportasi dan logistik
b. Fashion
c. Manufaktur
d. Kuliner
e. Hospitality
f. Konstruksi dan properti
g. Pergudangan
h. FMCG
i. Pertanian dan perkebunan.

Syarat Utama Pengajuan Pendanaan

Untuk mengajukan pendanaan, bisnis perlu memenuhi kriteria berikut:

a. Kebutuhan dana minimal Rp500 juta
b. Omzet tahunan minimal Rp2,5 miliar
c. Usaha telah berjalan minimal 1 tahun
d. Berbadan hukum PT atau CV
e. Memiliki laporan keuangan sederhana.

Baca juga: Starter On! 7 Jurus Membuat Rencana Bisnis 2026 Biar Usaha Ngebut dan Terarah

Alur Pengajuan Pendanaan

Proses pengajuan dilakukan secara terstruktur melalui tahapan berikut:

a. Ajukan melalui situs resmi lbs.id
b. Verifikasi bisnis dan legalitas
c. Persetujuan oleh Komite Investasi
d. Listing dibuka untuk didanai investor. 

Dengan pendanaan yang tepat, bisnis dapat menjaga cash flow tetap sehat, mempercepat penyelesaian proyek, dan membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar. Ajukan pendanaan sekarang di LBS Urun Dana dan percepat perkembangan bisnis Anda.

Bagikan Artikel Ini

facebook
X
whastapp
Naufal Mamduh

PROFIL PENULIS

Naufal Mamduh

SEO Content Writer

Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.

Copyright 2026. PT LBS Urun Dana berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

@lbsurundanaLBS Urun Dana@LbsUrunDanaLBS TVLBS Urun Dana

PT LBS Urun Dana adalah penyelenggara layanan urun dana yang menyediakan platform berbasis teknologi untuk penawaran efek (securities crowdfunding) di mana melalui platform tersebut penerbit menawarkan instrumen efek kepada investor (pemodal) melalui sistem elektronik yang telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17 tahun 2025 tentang “Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi” Pasal 75, kami menyatakan bahwa :

  • “OTORITAS JASA KEUANGAN TIDAK MEMBERIKAN PERSETUJUAN TERHADAP PENERBIT DAN TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN INFORMASI DALAM LAYANAN URUN DANA INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM.”
  • “INFORMASI DALAM LAYANAN URUN DANA INI PENTING DAN PERLU MENDAPAT PERHATIAN SEGERA. APABILA TERDAPAT KERAGUAN PADA TINDAKAN YANG AKAN DIAMBIL, SEBAIKNYA BERKONSULTASI DENGAN PENYELENGGARA.”; dan
  • “PENERBIT DAN PENYELENGGARA, BAIK SENDIRI MAUPUN BERSAMA-SAMA, BERTANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA INFORMASI YANG TERCANTUM DALAM LAYANAN URUN DANA INI.”

PENGUNGKAPAN RISIKO PERUBAHAN STATUS EFEK SYARIAH

Efek saham yang ditawarkan melalui platform LBS Urun Dana telah sesuai dengan ketentuan POJK Nomor 17 tahun 2025 dan SEOJK Nomor 3/SEOJK.04/2022. Terdapat risiko perubahan status Efek Syariah beserta konsekuensi yang timbul dari perubahan status tersebut.

Konsekuensi dari perubahan status tersebut antara lain:

  • Efek tersebut dapat mengalami penurunan permintaan atau berkurangnya likuiditas akibat tekanan jual dari investor.
  • Efek tersebut dapat dihapus (delisting) dari platform LBS Urun Dana apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan oleh Penyelenggara, Penerbit tidak melakukan perbaikan yang memadai atas ketidaksesuaian dengan prinsip syariah. Penyelenggara berwenang untuk menghentikan penawaran dan menghapus efek tersebut dari daftar efek yang tersedia di platform sesuai dengan ketentuan dan prosedur internal yang berlaku.

Sebelum melakukan investasi melalui platform LBS Urun Dana, anda perlu memperhitungkan setiap investasi bisnis yang akan anda lakukan dengan seksama. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan analisa (due diligence), yang diantaranya (namun tidak terbatas pada); Analisa kondisi makro ekonomi, Analisa Model Bisnis, Analisa Laporan Keuangan, Analisa Kompetior dan Industri, Risiko bisnis lainnya.

Investasi pada suatu bisnis merupakan aktivitas berisiko tinggi, nilai investasi yang anda sertakan pada suatu bisnis memiliki potensi mengalami kenaikan, penurunan, bahkan kegagalan. Beberapa risiko yang terkandung pada aktivitas ini diantaranya:

Risiko Usaha

Risiko yang dapat terjadi dimana pencapaian bisnis secara aktual tidak memenuhi proyeksi pada proposal/prospektus bisnis.

Risiko Gagal Bayar

Gagal bayar atas efek bersifat sukuk, seperti kegagalan penerbit dalam mengembalikan modal dan bagi hasil/marjin kepada investor.

Risiko Kerugian Investasi

Sejalan dengan risiko usaha dimungkinkan terjadi nilai investasi yang diserahkan investor menurun dari nilai awal pada saat dilakukan penyetoran modal sehingga tidak didapatkannya keuntungan sesuai yang diharapkan.

Dilusi Kepemilikan Saham

Dilusi kepemilikan saham terjadi ketika ada pertambahan total jumlah saham yang beredar sehingga terjadi perubahan/penurunan persentase kepemilikan saham.

Risiko Likuiditas

Investasi anda melalui platform layan urun dana bisa jadi bukan merupakan instrumen investasi yang likuid, hal ini dikarenakan instrumen efek yang ditawarkan melalui platform hanya dapat diperjualbelikan melalui mekanisme pasar sekunder pada platform yang sama, dimana periode pelaksanaan pasar sekunder tersebut juga dibatasi oleh peraturan. Anda mungkin tidak dapat dengan mudah menjual saham anda di bisnis tertentu sebelum dilaksanakannya skema pasar sekunder oleh penyelenggara. Selain itu, untuk efek bersifat sukuk, anda tidak dapat melakukan penjualan sukuknya hingga sukuk tersebut jatuh tempo atau mengikuti jadwal pengembalian modal yang sudah ditentukan.

Risiko Pembagian Dividen

Setiap Investor yang ikut berinvestasi berhak untuk mendapatkan dividen sesuai dengan jumlah kepemilikan saham. Seyogyanya dividen ini akan diberikan oleh Penerbit dengan jadwal pembagian yang telah disepakati di awal, namun sejalan dengan risiko usaha pembagian dividen ada kemungkinan tertunda atau tidak terjadi jika kinerja bisnis yang anda investasikan tidak berjalan dengan baik.

Risiko Kegagalan Sistem Elektronik

Platform LBS Urun Dana sudah menerapkan sistem elektronik dan keamanan data yang handal. Namun, tetap dimungkinkan terjadi gangguan sistem teknologi informasi dan kegagalan sistem, yang dapat menyebabkan aktivitas anda di platform menjadi tertunda.

Kebijakan Keamanan Informasi

Kami berkomitmen melindungi keamanan pengguna saat menggunakan layanan elektronis urun dana dengan:

  • Implementasi ISO/IEC 27001:2022 ISMS guna mewujudkan Confidentiality, Integrity dan Availability informasi.

  • Selalu mentaati segala ketentuan dan peraturan terkait keamanan infromasi yang berlaku di wilayah Republik Indonesia serta wilayah tempat dilakukannya pekerjaan.

  • Melakukan perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement) terhadap kinerja Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Bank Kustodian

  • Peran Bank Kustodian terbatas pada pencatatan, penyimpanan dan penyelesaian transaksi.

  • Bank Kustodian tidak bertanggung jawab atas klaim dan gugatan hukum yg ditimbulkan dari risiko investasi dan risiko-risiko lainnya di luar cakupan peran Bank Kustodian yang telah disebutkan di atas, termasuk kerugian yang ditimbulkan oleh kelalaian pihak-pihak lainnya.

Warning Penipuan atas nama LBS.ID