berita
18 Mei 2026
Naufal Mamduh
Gawat! Kurs Dollar Rp17.630 Bikin Harga Plastik hingga Pangan Terancam Naik
Senin pagi ini rupiah dibuka di level Rp17.630 per dolar AS, melemah hampir 1% hanya dalam semalam. Sepekan lalu sebelum libur panjang, kurs masih di Rp17.460. Semua penguatan itu habis, bahkan berbalik.
Tapi angka di layar trading bukan yang paling penting untuk dibicarakan hari ini. Yang lebih penting: siapa yang paling merasakan dampaknya?
Kenapa Rupiah Bisa Jatuh Sedalam Ini?
Dua hal terjadi bersamaan di luar negeri, dan keduanya tidak menguntungkan rupiah.
Pertama, perundingan AS-Iran yang tidak kunjung selesai membuat pelaku pasar global lari ke dolar sebagai tempat berlindung. Dolar sudah menguat lima hari berturut-turut, dan sedang dalam laju kenaikan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir.
Kedua, ekspektasi terhadap The Fed bergeser tajam. Data inflasi AS yang masih membandel membuat pasar mulai ragu suku bunga akan turun dalam waktu dekat, bahkan mulai mempertimbangkan kemungkinan naik lagi. Peluang kenaikan suku bunga pada Desember melonjak dari 14,3% menjadi 48,4% hanya dalam seminggu.
Yield obligasi AS tenor 10 tahun ikut naik ke 4,581%, tertinggi dalam setahun. Ketika surat utang AS menawarkan imbal hasil setinggi itu, wajar kalau modal global memilih pergi dari negara berkembang. Indonesia termasuk yang menanggung akibatnya.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per Dollar AS, Ini Strategi Purbaya Redam Gejolak
Yang Tidak Pakai Dolar pun Ikut Kena
Mungkin terlintas di pikiran: "Saya tidak punya dolar. Kenapa ini jadi urusan saya?"
Karena rupiah yang lemah membuat hampir semua yang kita beli sehari-hari ikut mahal. Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk banyak kebutuhan pokok.
Ketika rupiah melemah, harga barang impor naik, dan biaya itu ujungnya dibebankan ke konsumen. Ekonom CELIOS, Nailul Huda, menyebutnya imported inflation, dan ia memperkirakan dampaknya akan mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Komoditas yang paling berisiko terdampak antara lain:
1. Plastik dan kemasan. Bahan bakunya langka dan mahal. Imbasnya merembet ke hampir semua produk dalam kemasan, termasuk minyak goreng.
2. Gandum. Bahan baku mie instan, roti, dan tepung terigu hampir seluruhnya diimpor.
3. Kedelai. Bahan utama tahu dan tempe, yang sudah jadi makanan sehari-hari jutaan keluarga Indonesia.
4. Bawang putih. Hampir seluruh pasokan nasional bergantung pada impor dari Tiongkok.
5. Susu dan produk olahannya. Dari susu cair, susu bubuk, hingga bahan baku industri makanan.
6. Bahan baku obat-obatan. Sebagian besar bahan aktif farmasi masih diimpor.
7. Bahan baku industri. Ketika ongkos produksi naik, harga barang jadi ikut menyesuaikan.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyimpulkan hal senada: dampaknya akan terasa pelan tapi pasti, di harga makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga yang paling sederhana.
"Rakyat Desa Tidak Pakai Dolar." Iya, Tapi...
Sabtu lalu di Nganjuk, Jawa Timur, Presiden Prabowo Subianto merespons kekhawatiran publik soal melemahnya rupiah. Beliau mengatakan bahwa rakyat di desa tidak menggunakan dolar, jadi tidak perlu terlalu risau.
Secara harfiah, itu benar. Tidak ada petani yang membayar benih dengan dolar. Tidak ada pedagang sayur yang menyimpan greenback di laci kasnya.
Tapi justru di sinilah yang sering terlewat.
Petani membeli pupuk yang bahan bakunya diimpor. Ibu rumah tangga di desa membeli minyak goreng yang dikemas dalam plastik yang harganya sudah naik. Anak-anak minum susu formula yang bergantung pada bahan baku luar negeri. Ketika semua itu mahal, daya beli warga desa ikut tergerus, meski mereka tidak pernah menyentuh satu sen dolar pun seumur hidup.
Inflasi tidak mengenal batas kota dan desa. Ia tidak perlu izin untuk masuk ke warung di pelosok mana pun. Ia merayap, pelan, tapi pasti.
Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kebijakan The Fed bukan di tangan kita. Perundingan AS-Iran juga bukan. Tapi ada satu hal yang sepenuhnya kita tentukan sendiri: ke mana uang kita mengalir.
Membiarkan tabungan diam berarti membiarkannya tergerus inflasi yang sedang kita bicarakan tadi. Panik dan borong dolar justru ikut menekan rupiah lebih dalam. Dan sebagian besar dari kita memang tidak punya akses ke instrumen lindung nilai yang kompleks.
Salah satu yang bisa dilakukan adalah menempatkan uang pada bisnis nyata di dalam negeri. Uang yang bekerja di sini tidak ikut menggerus rupiah. Justru sebaliknya.
Di sinilah LBS Urun Dana relevan. Ini bukan platform investasi baru yang masih mencari bentuk. Sejak berdiri, mereka sudah menyalurkan lebih dari Rp312,5 miliar ke bisnis-bisnis milik pengusaha Indonesia, dengan lebih dari 16.400 investor yang sudah bergabung. Dan yang paling bisa diverifikasi: imbal hasil sukuknya sudah benar-benar cair, masuk ke rekening investor, bukan sekadar angka di dashboard.
Baca juga: Cair! Imbal Hasil Sukuk LBS Urun Dana Sudah Sukses Masuk ke Investor
Satu hal lagi yang mungkin penting buat sebagian dari kita: setiap produk di LBS Urun Dana, mulai dari sukuk, saham, hingga skema pendanaan lainnya, diawasi langsung oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Pakar Fikih Muamalah sekaligus Founder LBS Urun Dana. Beliau memastikan tidak ada celah riba, gharar, maupun kezaliman. Insya Allah halal.
Kalau masih ada yang ingin ditanyakan sebelum mulai, tim LBS siap menemani:
- Wisnu: Chat WhatsApp
- Faris: Chat WhatsApp
- Dwian: Chat WhatsApp
Siap? Langsung daftar di sini dan mulai di lbs.id.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






