berita
19 Mei 2026
Naufal Mamduh
Geger! Fakta di Balik Polemik Saham HSC yang Perlu Diketahui Investor
Bayangkan kamu beli saham, tiba-tiba harganya anjlok bukan karena kinerja perusahaannya buruk, tapi karena aturan baru dari bursa. Itulah yang sedang dialami para pemegang saham HSC saat ini.
Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka pintu bagi emiten-emiten yang masuk daftar High Shareholder Concentration (HSC) untuk berdiskusi langsung dengan pihak bursa. Beberapa perusahaan sudah benar-benar datang mengajukan audiensi.
"Kami menerima beberapa surat permintaan untuk diskusi dan semuanya kami layani dengan baik. Ada beberapa tanggal dan dari beberapa perusahaan," ujar Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik sebagaimana dikutip dari CNBC pada Selasa (19/5/2026).
Apa Itu HSC dan Kenapa Jadi Masalah?
HSC adalah kategori untuk emiten yang sahamnya dikuasai segelintir pemegang saham besar, sehingga porsi free float atau saham beredar bebas sangat kecil, rata-rata di bawah 5%.
Masalahnya bukan sekadar soal struktur kepemilikan. Saham dengan konsentrasi tinggi rentan dikendalikan segelintir pihak, likuiditasnya tipis, dan yang paling berdampak luas: lembaga indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell tidak mau memasukkan atau akan mengeluarkan saham semacam ini dari indeks mereka.
Konsekuensinya sudah terasa. MSCI lebih dulu mengeluarkan Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeksnya. FTSE Russell menyusul dengan pengumuman serupa lewat dokumen Indonesia-Index Treatment for the June 2026 Index Review.
Baca juga: Tragis! 7 Fakta Penyebab IHSG Terjun 6,8%, Benarkah Gara-Gara MSCI?
Begitu saham dicoret dari indeks global, dana-dana investasi raksasa yang mengacu indeks itu terpaksa ikut melepas kepemilikannya. Uang asing pun mengalir keluar, dan harga saham yang terkena imbasnya langsung anjlok.
Dampaknya bukan angka kecil. Skenario terburuk memperkirakan arus keluar dana asing bisa mencapai US$10 miliar atau setara Rp165 triliun sebagaimana dikutip dari GoTrade. IHSG sendiri sudah turun 1,98% dalam sepekan dan sempat menyentuh 6.723 poin, sementara rupiah tertekan ke Rp17.597 per dolar AS. Khusus dari rebalancing MSCI, tekanan jual pasif diperkirakan mencapai Rp18,5 triliun hingga akhir Mei 2026.
Reformasi Jangka Panjang, Sakit Jangka Pendek
Jeffrey tidak menampik bahwa ini terasa menyakitkan jangka pendek. Tapi ia menegaskan langkah ini sudah dikalkulasi.
"Itu adalah konsekuensi jangka pendek yang harus diterima, tetapi ini adalah upaya kita untuk memperbaiki pasar kita untuk jangka panjang," katanya.
Di sisi lain, Jeffrey mencatat ada progres positif dari sejumlah emiten yang mulai berupaya meningkatkan free float. BEI pun terbuka bagi siapa saja yang sudah mengambil langkah nyata untuk melapor.
Daftar 10 Saham Kategori HSC
1. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) — 97,31%
2. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) — 95,76%
3. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) — 95,35%
4. PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) — 99,85%
5. PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) — 95,94%
6. PT Ifishdeco Tbk (IFSH) — 99,77%
7. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) — 98,35%
8. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) — 97,75%
9. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) — 95,82%
10. PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) — 95,47%
Tetap Mau Investasi? Ada Pilihan Lain
Isu HSC ini jadi pengingat bahwa investasi yang sehat bukan soal all-in di satu instrumen. Kalau kamu ingin memperluas portofolio dengan instrumen yang risikonya lebih terukur, LBS Urun Dana patut dicoba.
Bukan platform baru yang belum teruji. Sejak berdiri, LBS Urun Dana sudah menyalurkan lebih dari Rp312,8 miliar ke bisnis pengusaha Indonesia, dengan lebih dari 16.400 investor bergabung. Imbal hasil sukuknya pun sudah benar-benar cair masuk ke rekening investor, bukan sekadar angka di dashboard.
Baca juga: Cair! Imbal Hasil Sukuk LBS Urun Dana Sudah Sukses Masuk ke Investor
Produk sukuk dan saham diawasi langsung oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Pakar Fikih Muamalah sekaligus Founder LBS Urun Dana. Tidak ada celah riba, gharar, maupun kezaliman. Insya Allah halal.
Kalau masih ada yang mengganjal atau mau tanya-tanya dulu sebelum mulai, tim LBS terbuka banget untuk ngobrol:
a. Wisnu: Chat WhatsApp
b. Faris: Chat WhatsApp
c. Dwian: Chat WhatsApp
Langsung daftar di sini dan mulai di lbs.id.
Pasar boleh bergejolak, tapi keputusan investasi yang matang selalu dimulai dari informasi yang benar.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






