pendanaan
8 Oktober 2026
Naufal Mamduh
Layak Dilirik! Equity Financing: Pendanaan Berbasis Ekuitas untuk Ekspansi Bisnis
Ketika bisnis butuh dana besar untuk ekspansi, pilihannya tidak hanya pinjaman. Ada jalur lain bernama equity financing, yaitu menghimpun modal dengan menawarkan sebagian kepemilikan perusahaan kepada investor. Ini berbeda dari debt financing yang mewajibkan perusahaan mengembalikan dana sesuai kewajiban yang disepakati.
Bagi pengusaha, bedanya bukan sekadar dari mana uangnya berasal, melainkan apa yang Anda serahkan sebagai gantinya.
Apa Itu Equity Financing?
Menurut Investopedia, equity financing adalah metode penghimpunan modal dengan menjual kepemilikan perusahaan kepada investor, sehingga bisnis memperoleh dana tanpa menambah utang. Jadi, alih-alih berutang, perusahaan menawarkan sebagian kepemilikannya.
Dananya kemudian dipakai sesuai rencana bisnis, misalnya menambah kapasitas produksi, membuka cabang, membeli aset produktif, atau mengembangkan produk. Karena berbasis ekuitas, dana itu bukan utang yang harus dikembalikan lewat cicilan pokok dan bunga. Tidak ada kewajiban berjadwal yang menekan arus kas di bulan-bulan sepi.
Tapi ada harga yang dibayar. Kini ada investor yang punya kepentingan atas perusahaan sesuai jumlah dan jenis saham yang dimilikinya. Karena itu pertanyaannya bergeser. Bukan lagi berapa dana yang bisa didapat, melainkan berapa bagian kepemilikan yang dilepas dan apa konsekuensinya.
Baca juga: Bisnis Mau Ekspansi? Ini Pilihan Modal Usaha Tanpa Riba yang Perlu Anda Pahami
Bagaimana Investor Memperoleh Hasil dari Equity Financing?
Investor memperoleh kepemilikan sesuai saham yang dibelinya. Potensi hasilnya berupa dividen, yaitu bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham.
Perlu digarisbawahi, perusahaan tidak wajib membagikan seluruh laba setiap periode. Keputusan penggunaan laba dan pembagian dividen mengikuti mekanisme perusahaan, termasuk keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Konsekuensinya bagi pengusaha justru melegakan. Equity financing tidak sama dengan menjanjikan imbal hasil tetap. Hasil bagi investor bergerak mengikuti kinerja perusahaan.
Di sisi lain, inilah yang membuat investor menilai prospek bisnis Anda jauh lebih teliti dibanding pemberi pinjaman.
Apa Bedanya Equity Financing vs Debt Financing?
Perbedaannya terletak pada apa yang Anda serahkan sebagai ganti dana yang masuk.
- Bentuknya. Equity financing menyerahkan sebagian kepemilikan. Debt financing menyerahkan janji pengembalian
- Kewajiban. Equity financing tidak menimbulkan cicilan pokok dan bunga. Debt financing punya jadwal pembayaran yang mengikat
- Hasil bagi pemilik dana. Pada equity financing berupa dividen sesuai kinerja. Pada debt financing berupa bunga yang besarannya sudah ditentukan
- Dampak ke kepemilikan. Equity financing mengurangi porsi kepemilikan Anda. Debt financing tidak menyentuhnya sama sekali
- Dampak ke arus kas. Equity financing tidak membebani kas bulanan. Debt financing menuntut pembayaran meski penjualan sedang turun
Equity Financing Lewat Securities Crowdfunding
Di Indonesia, pendanaan berbasis ekuitas tidak lagi terbatas pada investasi langsung atau pasar modal konvensional. Securities crowdfunding membuka jalur yang lebih terjangkau.
OJK mengatur layanan urun dana sebagai mekanisme penghimpunan dana lewat penawaran efek, dengan POJK Nomor 17 Tahun 2025 sebagai aturan terbaru. Efek yang boleh ditawarkan mencakup efek bersifat ekuitas, efek bersifat utang, dan sukuk.
Untuk equity financing, saham adalah instrumennya. Perusahaan menawarkan saham melalui penyelenggara berizin OJK, dan investor publik membelinya. Alurnya sederhana:
Bisnis membutuhkan dana → perusahaan menawarkan saham → investor menanamkan dana → perusahaan memperoleh pendanaan → investor memiliki saham sesuai porsinya.
4 Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Memilih Equity Financing
Equity financing bukan solusi otomatis hanya karena kebutuhan dananya besar.
- Kebutuhan dan penggunaan dana yang jelas. Investor perlu tahu mengapa dana itu dibutuhkan dan ke mana akan dipakai, lengkap dengan rinciannya.
- Kondisi keuangan yang dapat dijelaskan. Laporan keuangan yang rapi menunjukkan perkembangan bisnis, kondisi aset dan kewajiban, serta kemampuan menjalankan rencana pertumbuhan.
- Pemahaman atas konsekuensi kepemilikan. Berapa porsi saham yang dilepas, apa hak investornya, dan bagaimana struktur kepemilikan setelah pendanaan.
- Rencana pertumbuhan yang realistis. Angka kebutuhannya berasal dari perhitungan, bukan dari nominal yang ingin dihimpun.
Risiko dan Konsekuensi Equity Financing
Ada 2 konsekuensi yang sebaiknya dipahami sejak awal.
- Dilusi bersifat permanen. Berbeda dari utang yang selesai setelah lunas, porsi kepemilikan yang sudah dilepas tidak kembali dengan sendirinya.
- Ada kewajiban keterbukaan. Setelah pendanaan berjalan, perusahaan menyampaikan laporan perkembangan usaha kepada pemegang saham.
Keduanya bukan alasan untuk mundur, melainkan hal yang perlu masuk hitungan sejak awal.
Apakah Equity Financing Cocok untuk Bisnis Anda?
Equity financing layak dipertimbangkan bagi bisnis yang membutuhkan modal besar untuk ekspansi dan punya prospek pertumbuhan yang bisa dijelaskan dengan angka.
Bagi perusahaan yang sudah berada di titik itu, Equity Day Batch 6 LBS Urun Dana dapat menjadi ruang untuk mempersiapkan diri. Profil peserta yang dituju:
- Berbentuk PT dan sudah berjalan minimal 3 tahun
- Omzet minimal Rp500 juta per bulan
- Memiliki laporan keuangan profesional 2 tahun terakhir
- Membutuhkan pendanaan Rp5 sampai Rp10 miliar
- Punya rencana penggunaan dana yang jelas dan realistis
Baca juga: Paling Ditunggu! Equity Day Batch 6 Segera Hadir, Cek Jadwal, Pembicara, dan Cara Daftarnya!
Kriteria ini khusus berlaku untuk Equity Day, dan berbeda dari syarat pengajuan pendanaan reguler di LBS Urun Dana. Equity Day Batch 6 digelar pada Kamis, 15 Oktober 2026 di Point Lab Coworking, Bandung.
Bila bisnis Anda memenuhi kriterianya dan sedang menyiapkan ekspansi, hubungi tim kami untuk memastikan ketersediaan tempat:
- Esa: Chat WhatsApp
- Rasyid: Chat WhatsApp

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






