artikel
6 Januari 2026
Kasih Paham! Perbedaan Revenue dan Income, Wajib Tahu Biar Bisnis Gak Tekor!
Pada umumnya, setiap usaha berfokus pada indikator keuangan seperti revenue, omzet, profit, dan cash flow. Indikator ini menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis, termasuk saat pengusaha mengajukan pendanaan bisnis atau pendanaan proyek bisnis untuk ekspansi.
Namun, tidak sedikit pengusaha yang masih keliru memahami perbedaan revenue dan income. Keduanya sering disamakan, padahal dalam praktik akuntansi memiliki fungsi yang berbeda dalam menilai kinerja usaha.
Pemahaman ini menjadi semakin penting pada bisnis logistik berbasis transportasi truk, di mana revenue dari jasa pengiriman harus dikelola di tengah tingginya biaya operasional armada. Pengelolaan revenue dan income yang tepat akan membantu menjaga kesehatan keuangan sekaligus meningkatkan peluang memperoleh pendanaan bisnis untuk pengembangan usaha.
Pengertian Revenue dan Income
Revenue merupakan istilah yang berkaitan dengan keseluruhan hasil usaha utama perusahaan dalam periode tertentu. Secara sederhana, revenue adalah total uang yang diterima perusahaan dari penjualan produk atau jasa kepada pelanggan. Revenue tidak berasal dari penanaman modal, melainkan murni dari aktivitas usaha yang dijalankan.
Dalam praktiknya, revenue sering dipahami sebagai pendapatan kotor atau total omzet penjualan. Karena itu, revenue kerap menjadi salah satu indikator awal yang dilihat oleh pihak eksternal, termasuk investor atau penyedia pendanaan proyek bisnis, untuk menilai skala dan potensi usaha.
Berbeda dengan revenue, income adalah pendapatan yang telah dikurangi berbagai biaya. Income mencerminkan pendapatan bersih yang benar-benar diterima perusahaan setelah dikurangi harga pokok penjualan (HPP), beban operasional, serta biaya lainnya.
Dalam laporan keuangan, income lebih sering dikaitkan dengan laba, baik laba kotor (gross profit) maupun laba bersih (net profit). Income inilah yang menunjukkan seberapa efisien perusahaan mengelola biaya dari revenue yang dihasilkan.
Rumus Menghitung Revenue dan Income
Memahami rumus menghitung revenue dan income sangat penting bagi pengusaha transportasi truk, terutama saat menyusun laporan keuangan untuk pendanaan bisnis maupun pendanaan proyek bisnis.
Contoh Perhitungan Revenue
Revenue merupakan pendapatan kotor atau omzet yang diperoleh dari aktivitas usaha. Pada bisnis transportasi truk, revenue berasal dari layanan pengiriman barang menggunakan armada truk.
Rumus sederhananya adalah: Revenue = Jumlah perjalanan × Tarif angkut per perjalanan
Baca juga: Cekidot! 10 Kelebihan dan Kekurangan Multifinance yang Menentukan Nasib Bisnis Anda
Sebagai contoh, sebuah perusahaan transportasi truk menyelesaikan 200 perjalanan dalam satu bulan dengan tarif rata-rata Rp1.200.000 per perjalanan. Maka revenue yang dihasilkan adalah Rp240.000.000.
Contoh Perhitungan Income
Income menunjukkan pendapatan bersih yang diperoleh setelah dikurangi berbagai biaya operasional. Langkah pertama adalah menghitung laba kotor dengan rumus: Gross Profit = Revenue − Harga Pokok Penjualan (HPP)
Dalam bisnis transportasi truk, HPP umumnya meliputi biaya bahan bakar, tol, upah sopir, serta perawatan rutin kendaraan. Misalnya, dari revenue Rp240.000.000, total HPP tercatat sebesar Rp160.000.000. Maka laba kotornya adalah Rp80.000.000.
Langkah berikutnya adalah menghitung laba bersih atau income dengan rumus: Net Income = Gross Profit − Biaya Operasional
Jika dari laba kotor Rp80.000.000 masih terdapat biaya operasional lain seperti administrasi, asuransi, pajak, dan biaya kantor sebesar Rp35.000.000, maka income atau laba bersih perusahaan transportasi truk tersebut adalah Rp45.000.000.
5 Strategi Meningkatkan Income Perusahaan
Meningkatkan income menjadi langkah penting bagi perusahaan, khususnya pada bisnis logistik berbasis transportasi truk yang memiliki biaya operasional tinggi. Income yang sehat menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mampu menghasilkan revenue, tetapi juga efisien dalam mengelola biaya. Berikut lima strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan income secara berkelanjutan.
1. Mengendalikan Biaya Operasional Armada
Biaya operasional merupakan komponen terbesar dalam bisnis transportasi truk. Pengelolaan bahan bakar, tol, perawatan kendaraan, dan upah sopir perlu dilakukan secara terukur. Efisiensi pada pos biaya ini akan langsung berdampak pada peningkatan income tanpa harus menambah jumlah perjalanan.
2. Optimalisasi Utilisasi Truk
Truk yang sering menganggur akan menekan income perusahaan. Penjadwalan rute yang lebih rapi, pengurangan perjalanan kosong, serta peningkatan frekuensi pengiriman dapat membantu memaksimalkan pemanfaatan armada. Semakin optimal truk digunakan, semakin besar potensi income yang dihasilkan dari revenue yang ada.
3. Penyesuaian Tarif Berbasis Biaya dan Risiko
Penetapan tarif angkut sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan pasar, tetapi juga biaya aktual dan risiko operasional. Penyesuaian tarif untuk jarak jauh, muatan berat, atau rute berisiko dapat membantu meningkatkan margin, sehingga income perusahaan lebih terjaga.
Baca juga: Deal! 10 Cara Ampuh Menang Tender Proyek Pemerintah, Plus Solusi Pendanaan Cepat!
4. Fokus pada Klien Jangka Panjang
Kerja sama jangka panjang dengan pelanggan memberikan kepastian order dan arus kas yang lebih stabil. Kontrak rutin memungkinkan perusahaan mengatur biaya operasional dengan lebih efisien, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap income dibandingkan mengandalkan order sporadis.
5. Evaluasi Laporan Keuangan Secara Berkala
Evaluasi rutin terhadap laporan laba rugi membantu perusahaan mengidentifikasi pos biaya yang membengkak dan peluang efisiensi. Dengan memahami perbedaan revenue dan income secara konsisten, perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk menjaga dan meningkatkan income.
Solusi Pendanaan Truk Cair Cepat 300 Juta - 10 Miliar
Income perusahaan kerap terlihat sehat, tetapi belum tentu cukup kuat untuk menopang ekspansi armada. Banyak pengusaha logistik transportasi truk memiliki order yang stabil, namun income tertekan oleh tingginya biaya operasional dan kebutuhan modal. Saat bisnis perlu menambah armada, tantangannya bukan sekadar mencari dana, tetapi memastikan income perusahaan tetap aman dan berkelanjutan.
Karena itu, pengusaha logistik membutuhkan pendanaan yang memahami ritme usaha, struktur biaya, dan aset truk. LBS Urun Dana, yang didirikan oleh Pakar Fiqih Muamalah Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, membuka akses pendanaan bisnis Rp300 juta hingga Rp10 miliar melalui program Truck Funding. Program ini dirancang untuk membantu menambah armada, menjaga kelancaran kontrak, dan meningkatkan income perusahaan secara terukur, sekaligus mendukung berbagai sektor usaha lainnya dengan syarat yang jelas.
Jenis Usaha yang Dapat Didanai LBS Urun Dana
a. Transportasi dan logistik
b. Fashion
c. Manufaktur
d. Kuliner
e. Hospitality
f. Konstruksi dan properti
g. Pergudangan
h. FMCG
i. Pertanian dan perkebunan
Syarat Pengajuan Pendanaan hingga Rp10 Miliar
a. Kebutuhan dana minimal Rp500 juta
b. Omzet usaha minimal Rp1,5 miliar per tahun
c. Usaha berjalan minimal 1 tahun
d. Berbadan hukum PT atau CV
e. Memiliki laporan keuangan sederhana
Simulasi Perhitungan Angsuran
2026 saatnya tancap gas. Perkuat income dan tambah armada lewat Truck Funding LBS Urun Dana. Dapatkan pendanaan Rp300 juta hingga Rp10 miliar untuk dorong kontrak dan pertumbuhan bisnis. Ajukan sekarang!






