berita
12 Januari 2026
Kalem! Alasan Investor Asing Gak Kabur Walaupun Defisit APBN Capai Rp695 Triliun
Di tengah sorotan terhadap melemahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya defisit APBN, pemerintah menegaskan bahwa kondisi fiskal tersebut tidak berdampak signifikan terhadap minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Otoritas investasi menilai, dampak defisit APBN lebih banyak berada pada pengelolaan keuangan negara, sementara investor justru memfokuskan perhatian pada prospek usaha dan efisiensi ekonomi jangka panjang.
1. Investor Tak Jadikan Defisit APBN sebagai Pertimbangan
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan, menyatakan bahwa defisit APBN bukan isu yang dipermasalahkan investor asing, khususnya dalam konteks investasi lanjutan atau reinvestasi di Indonesia.
“Sejauh ini mereka tidak [menanyakan defisit], karena ketika bicara reinvestasi di Indonesia, defisit itu kan pengelolaan keuangan negara,” ujar Nurul sebagaimana dikutip dari Bloomberg Technoz pada Senin (12/1/2026).
2. Dampak Defisit APBN Tak Jadi Fokus Investor
Menurut Nurul, dampak defisit APBN tidak menjadi fokus utama investor asing. Mereka lebih menaruh perhatian pada potensi pasar Indonesia, daya beli masyarakat, serta efisiensi ekonomi yang ditawarkan, termasuk kedekatan dengan bahan baku, akses pasar, dan keunggulan regulasi.
Baca juga: Wuss! 10 Cara Dapat Pendanaan Bisnis Cepat Cair 10 Miliar Bebas Ribet!
3. Belanja Negara Bukan Penopang Utama Bisnis
Ia menegaskan bahwa investor tidak selalu bergantung pada belanja negara sebagai sarana penyerapan produk.
“Tidak selalu negara yang harus menyerap produk-produk mereka,” kata Nurul.
4. Daya Beli dan Pajak Dipahami sebagai Proses Transisi
Terkait daya beli masyarakat dan potensi pajak, Nurul menyebut investor memahami bahwa struktur ekonomi Indonesia masih berkembang. Kondisi tersebut dipandang sebagai bagian dari proses transisi, bukan sebagai dampak langsung dari defisit APBN yang bersifat menghambat investasi.
5. Efisiensi Produksi dan Regulasi Lebih Menentukan
Investor asing, lanjut Nurul, lebih mempertimbangkan efisiensi produksi, daya saing harga di pasar global, serta kemampuan Indonesia menghadirkan regulasi yang kondusif bagi kegiatan usaha dibandingkan dinamika defisit fiskal.
6. Defisit APBN 2025 Melebar di Atas Target
Sebagai catatan, Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari target yang ditetapkan.
7. Faktor Penyebab Melebarnya Defisit APBN
Melebarnya defisit APBN antara lain dipicu oleh pengalihan dividen BUMN ke Danantara yang menekan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta tren penurunan harga komoditas sepanjang 2025 yang berdampak pada penerimaan negara.
Baca juga: Main Cantik! 7 Strategi Investasi 2026 Biar Cuan Jalan Risiko Ketahan!
Pelebaran defisit APBN tidak serta-merta berdampak pada minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Dampak defisit APBN dinilai lebih berkaitan dengan pengelolaan fiskal negara, sementara investor tetap memprioritaskan potensi pasar, efisiensi produksi, daya saing global, serta kepastian regulasi sebagai dasar utama keputusan investasi.






