berita
29 Desember 2025
Serem! BRIN Bocorin Sinyal “Badai Ekonomi” dalam Fenomena Rojali
Sepanjang 2025, angka inflasi Indonesia terlihat relatif rendah dan stabil. Namun di balik data tersebut, ada realitas ekonomi yang perlu dibaca lebih dalam. Lemahnya daya beli masyarakat memunculkan fenomena rojali, di mana pusat perbelanjaan tetap ramai, tetapi transaksi minim.
Kondisi ini memberi sinyal penting bagi pelaku usaha bahwa stabilnya inflasi belum tentu berarti konsumsi sedang kuat, dan justru bisa menjadi tanda tekanan di sektor riil. Berikut ini 5 fakta penting tentang inflasi 2025–2026 dan dampak fenomena rojali bagi dunia usaha:
1. Inflasi 2025 rendah, tapi bukan karena ekonomi kuat
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN Pihri Buhaerah dalam Economic Outlook 2026, memperkirakan inflasi sepanjang 2025 hanya berada di kisaran 2,4%–2,8%. Angka ini terlihat stabil, tetapi penyebab utamanya justru lemahnya daya beli masyarakat. Hingga November 2025, inflasi tahunan tercatat 2,72%, menunjukkan konsumsi masih tertahan, bukan permintaan yang agresif.
2. Rojali jadi cerminan daya beli yang melemah
Sebagaimana dikutip dari CNBC pada Senin (29/12/2025), dalam fenomena rojali masyarakat datang ke pusat perbelanjaan tapi jarang melakukan transaksi, semakin sering terjadi. Ini menjadi indikator langsung bahwa aktivitas ekonomi di level konsumsi tidak benar-benar bergerak, meskipun mobilitas masyarakat terlihat normal.
Baca juga: Woles! Ini Jurus Purbaya Atur Defisit APBN dan Lawan Prediksi Horror Bank Dunia!
3. Diskon tidak lagi efektif mendorong penjualan
Dalam merespons rojali, banyak pengusaha memilih strategi diskon. Namun, BRIN menilai langkah ini sering kali tidak berhasil. Harga sudah turun, tetapi pembelian tetap minim. Dampaknya, margin usaha menyusut dan arus kas bisnis semakin tertekan.
4. Tekanan bisnis berujung pada PHK
Ketika diskon tidak menghasilkan peningkatan penjualan, bisnis masuk fase penyesuaian biaya. Salah satunya melalui pemutusan hubungan kerja. BRIN menyebut rojali sebagai bagian dari cerita pertengahan spiral deflasi, di mana lemahnya permintaan menekan sektor riil dan berdampak langsung pada tenaga kerja.
5. Inflasi 2026 diperkirakan naik, tapi masih wajar
Untuk 2026, BRIN memproyeksikan inflasi meningkat ke kisaran 2,6%–3,2%. Kenaikan ini didorong ekspansi fiskal pemerintah dengan target defisit APBN 2,68% dari PDB, risiko bencana alam, serta meningkatnya permintaan pangan dari program Makan Bergizi Gratis. Meski naik, inflasi di sekitar 3% masih dinilai normal dan menandakan ekonomi mulai bergerak.
Rendahnya inflasi pada 2025 lebih mencerminkan melemahnya daya beli daripada kuatnya permintaan. Fenomena rojali berdampak langsung pada bisnis melalui penurunan penjualan, strategi diskon yang kurang efektif, hingga tekanan biaya yang berujung pada PHK.
Baca juga: Gokil! Pengusaha Pede Ekonomi Indonesia 2026 Cerah, Sinyalnya Bermula Dari Sini!
Meski inflasi 2026 diperkirakan naik seiring ekspansi fiskal dan peningkatan permintaan pangan, level sekitar 3% masih tergolong normal. Tantangan utama bagi dunia usaha ke depan adalah bagaimana bertahan dan beradaptasi di tengah fase transisi dari konsumsi yang tertahan menuju pemulihan daya beli yang lebih sehat.






