investasi

calendar_today

13 Januari 2025

account_circle

Naufal Mamduh

Pengertian ROI: Rumus, Cara Menghitung, dan Contoh Terbaru

Return on Investment (ROI) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat hasil dari suatu investasi dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan.

Dengan memahami ROI, investor dapat melihat secara lebih terukur berapa besar keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dari suatu investasi. Namun, ROI tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya dasar dalam menilai sebuah instrumen investasi karena angka tersebut belum tentu menggambarkan risiko, jangka waktu, maupun seluruh biaya yang terkait.

Lantas, apa itu ROI, bagaimana rumusnya, dan bagaimana cara menghitungnya?

Baca juga: Wajib Disimak! 10 Alasan Investasi Saham Tetap Menarik Meski Pasar Bergejolak

Apa Itu ROI?

ROI adalah singkatan dari Return on Investment, yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur hasil investasi dibandingkan dengan biaya atau modal yang dikeluarkan.

Secara sederhana, ROI menjawab pertanyaan:

“Berapa besar hasil yang saya peroleh dibandingkan dengan modal yang saya keluarkan?”

Misalnya, Anda menginvestasikan Rp10 juta dan memperoleh keuntungan bersih Rp2 juta. Berdasarkan perhitungan sederhana, ROI investasi tersebut adalah 20%.

Semakin besar persentase ROI, semakin besar pula hasil investasi dibandingkan dengan modal awal. Namun, angka tersebut tetap perlu dilihat bersama faktor lain, seperti risiko dan periode investasi.

Apa Fungsi ROI dalam Investasi?

ROI dapat membantu investor untuk:

1. Mengukur Hasil Investasi

ROI memberikan gambaran kuantitatif mengenai hasil yang diperoleh dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan.

2. Mengevaluasi Kinerja Investasi

Investor dapat menggunakan ROI untuk mengevaluasi hasil investasi dalam periode tertentu.

3. Membandingkan Hasil Investasi

ROI dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketika membandingkan beberapa investasi dengan karakteristik yang sebanding.

Namun, perbandingan harus dilakukan secara hati-hati. Investasi dengan ROI 15% dalam satu tahun tidak dapat langsung dianggap sama dengan investasi yang menghasilkan ROI 15% dalam tiga tahun.

4. Membantu Perencanaan Investasi

Dengan memahami potensi hasil dan biaya yang berkaitan dengan investasi, investor dapat membuat perhitungan yang lebih terukur sebelum menempatkan dana.

Apa Rumus ROI?

Rumus ROI sederhana adalah:

ROI = (Keuntungan Bersih ÷ Biaya Investasi) × 100%

Jika angka yang tersedia merupakan total nilai pengembalian, bukan keuntungan bersih, maka perhitungannya dapat ditulis:

ROI = ((Total Pengembalian − Investasi Awal) ÷ Investasi Awal) × 100%

Kedua bentuk tersebut pada dasarnya menghitung hal yang sama selama komponen yang digunakan konsisten.

Bagaimana Cara Menghitung ROI?

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh perhitungannya.

Misalnya Anda melakukan investasi sebesar Rp10.000.000.

Setelah periode investasi berakhir, Anda memperoleh total pengembalian sebesar Rp12.000.000.

Maka keuntungan bersihnya:

Rp12.000.000 − Rp10.000.000 = Rp2.000.000

Selanjutnya:

ROI = (Rp2.000.000 ÷ Rp10.000.000) × 100%

ROI = 20%

Artinya, keuntungan bersih yang diperoleh setara dengan 20% dari modal investasi awal.

Perlu diperhatikan, contoh tersebut merupakan perhitungan ROI sederhana. Dalam investasi nyata, investor perlu memperhitungkan biaya transaksi, pajak jika ada, biaya administrasi, maupun komponen lain yang dapat memengaruhi hasil bersih.

Baca juga: Anti Ribet! 5 Cara Investasi Halal ala Warren Buffett untuk Orang Sibuk

Apa Saja Faktor yang Memengaruhi ROI?

Besarnya ROI dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

1. Nilai atau Harga Aset

Pada investasi yang nilainya dapat berubah, kenaikan atau penurunan harga aset dapat memengaruhi hasil investasi.

2. Pendapatan dari Investasi

Dividen, bagi hasil, kupon, atau pendapatan lain yang diterima investor dapat memengaruhi hasil akhir investasi, sesuai karakteristik instrumennya.

3. Biaya Investasi

Biaya administrasi, transaksi, pengelolaan, atau biaya lainnya dapat mengurangi hasil bersih yang diterima investor.

Karena itu, menghitung ROI sebaiknya menggunakan angka yang sudah memperhitungkan biaya yang relevan.

4. Jangka Waktu Investasi

Jangka waktu menjadi faktor penting ketika membandingkan hasil investasi.

ROI sebesar 20% yang diperoleh dalam satu tahun memiliki konteks yang berbeda dengan ROI 20% yang diperoleh dalam lima tahun.

Karena itu, ROI tidak selalu dapat digunakan untuk membandingkan investasi dengan periode yang berbeda secara langsung.

5. Risiko Investasi

ROI hanya menunjukkan hasil relatif terhadap modal. Angka tersebut tidak secara otomatis menunjukkan seberapa besar risiko yang harus ditanggung investor.

Investasi dengan potensi hasil lebih tinggi dapat memiliki karakteristik risiko yang berbeda dengan investasi yang menawarkan hasil lebih rendah.

Apa Kelebihan Menggunakan ROI?

ROI memiliki beberapa kelebihan sebagai indikator investasi.

Pertama, sederhana. Rumusnya relatif mudah dipahami dan dihitung.

Kedua, mudah digunakan untuk evaluasi. Investor dapat melihat hubungan antara hasil yang diperoleh dan modal awal.

Ketiga, dapat menjadi salah satu alat perbandingan. ROI dapat digunakan untuk membandingkan hasil beberapa investasi dengan periode dan karakteristik yang relatif sebanding.

Namun, ROI sebaiknya digunakan bersama indikator dan informasi lainnya agar penilaian investasi tidak hanya berfokus pada satu angka.

Apa Keterbatasan ROI?

Meskipun praktis, ROI juga memiliki keterbatasan.

Tidak Memperhitungkan Waktu Secara Langsung

ROI sederhana tidak menunjukkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil tersebut.

Karena itu, ROI 20% dalam satu tahun tidak dapat langsung disamakan dengan ROI 20% dalam lima tahun.

Tidak Menggambarkan Risiko Secara Keseluruhan

ROI tidak menunjukkan seluruh risiko yang melekat pada suatu investasi.

Investor tetap perlu memahami risiko pasar, risiko likuiditas, risiko penerbit, maupun risiko lain sesuai instrumen yang dipilih.

Tidak Selalu Memasukkan Seluruh Biaya

Jika investor hanya menggunakan angka keuntungan kotor, hasil ROI dapat terlihat lebih tinggi daripada hasil bersih yang sebenarnya diterima.

Karena itu, komponen biaya perlu diperhatikan dalam perhitungan.

Bagaimana ROI dalam Investasi Syariah?

Konsep ROI juga dapat digunakan untuk melihat hasil investasi syariah. Namun, penilaian investasi syariah tidak hanya berkaitan dengan besarnya hasil. Investor juga perlu memperhatikan apakah instrumen, akad, mekanisme transaksi, serta kegiatan yang dibiayai sesuai dengan prinsip syariah.

Dengan demikian, ROI dapat digunakan sebagai salah satu indikator finansial, bukan sebagai satu-satunya ukuran dalam menentukan pilihan investasi.

Untuk investasi berbasis efek, investor juga perlu membaca prospektus dan memahami informasi mengenai penerbit, penggunaan dana, struktur instrumen, jangka waktu, potensi hasil, serta risiko yang menyertainya.

Apakah ROI Tinggi Selalu Berarti Investasi Lebih Baik?

Belum tentu.

ROI yang lebih tinggi perlu dilihat bersama dengan periode investasi, risiko, likuiditas, biaya, serta karakteristik instrumen.

Misalnya, dua investasi sama-sama menghasilkan ROI 15%. Jika investasi pertama membutuhkan waktu satu tahun, sedangkan investasi kedua membutuhkan waktu tiga tahun, keduanya memiliki konteks hasil yang berbeda.

Karena itu, jangan hanya melihat angka ROI ketika mengevaluasi investasi.

Apa Perbedaan ROI dan Return Tahunan?

ROI dan return tahunan memiliki konteks yang berbeda.

ROI menunjukkan hasil investasi dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan dalam suatu periode.

Sementara itu, ketika investor ingin membandingkan investasi berdasarkan tingkat hasil tahunan, diperlukan pendekatan yang mempertimbangkan periode investasi.

Hal ini penting terutama ketika membandingkan investasi dengan jangka waktu yang berbeda.

Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Berinvestasi?

Sebelum menempatkan dana, jangan hanya melihat proyeksi atau angka ROI.

Perhatikan beberapa hal berikut:

  1. Tujuan investasi

  2. Jangka waktu investasi

  3. Profil risiko

  4. Potensi hasil dan mekanismenya

  5. Biaya yang dikenakan

  6. Likuiditas instrumen

  7. Kondisi dan rekam jejak penerbit

  8. Dokumen dan prospektus

  9. Risiko yang mungkin terjadi


Jika suatu investasi mencantumkan proyeksi hasil, pahami bahwa proyeksi bukan jaminan hasil yang akan diterima.

Investor juga perlu memastikan informasi yang digunakan berasal dari dokumen dan sumber resmi sebelum mengambil keputusan.

FAQ Seputar ROI

Apa itu ROI?

ROI atau Return on Investment adalah rasio yang digunakan untuk mengukur hasil investasi dibandingkan dengan modal atau biaya investasi yang dikeluarkan.

Bagaimana rumus ROI?

Rumus ROI sederhana adalah (Keuntungan Bersih ÷ Biaya Investasi) × 100%.

Jika menggunakan total pengembalian, rumusnya adalah ((Total Pengembalian − Investasi Awal) ÷ Investasi Awal) × 100%.

Bagaimana contoh menghitung ROI?

Jika modal investasi Rp10 juta menghasilkan keuntungan bersih Rp2 juta, maka ROI adalah 20%.

Apakah ROI tinggi selalu lebih baik?

Tidak selalu. ROI perlu dilihat bersama jangka waktu, risiko, biaya, likuiditas, dan karakteristik investasi lainnya.

Apakah ROI bisa digunakan untuk investasi syariah atau halal?

Bisa. ROI dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur hasil investasi syariah. Namun, investor tetap perlu memperhatikan kesesuaian prinsip syariah serta risiko dan karakteristik instrumen yang dipilih.

Apakah ROI sama dengan keuntungan?

Tidak persis. Keuntungan menunjukkan nominal hasil yang diperoleh, sedangkan ROI menunjukkan hasil tersebut dalam bentuk persentase terhadap modal atau biaya investasi.

Kesimpulan

Return on Investment (ROI) merupakan salah satu indikator yang dapat membantu investor memahami hasil investasi dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan.

Rumus dasarnya sederhana, yaitu membandingkan keuntungan bersih dengan biaya investasi. Namun, ROI tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya dasar dalam menilai investasi.

Jangka waktu, risiko, biaya, likuiditas, karakteristik instrumen, kondisi penerbit, serta informasi dalam prospektus juga perlu diperhatikan.

Dengan memahami cara menghitung dan membaca ROI secara tepat, investor dapat mengevaluasi hasil investasi secara lebih terukur dan tidak hanya terpaku pada besarnya persentase keuntungan.

Pelajari Investasi dengan Lebih Cermat

Sebelum berinvestasi, pahami instrumen yang dipilih, baca prospektus, dan pertimbangkan risiko serta tujuan investasi Anda.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai investasi melalui Securities Crowdfunding di LBS Urun Dana, Anda dapat menghubungi tim LBS untuk memperoleh informasi mengenai mekanisme dan pilihan investasi yang tersedia.

Bagikan Artikel Ini

facebook
X
whastapp
Naufal Mamduh

PROFIL PENULIS

Naufal Mamduh

SEO Content Writer

Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.

Copyright 2026. PT LBS Urun Dana berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

@lbsurundanaLBS Urun Dana@LbsUrunDanaLBS TVLBS Urun Dana

PT LBS Urun Dana adalah penyelenggara layanan urun dana yang menyediakan platform berbasis teknologi untuk penawaran efek (securities crowdfunding) di mana melalui platform tersebut penerbit menawarkan instrumen efek kepada investor (pemodal) melalui sistem elektronik yang telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17 tahun 2025 tentang “Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi” Pasal 75, kami menyatakan bahwa :

  • “OTORITAS JASA KEUANGAN TIDAK MEMBERIKAN PERSETUJUAN TERHADAP PENERBIT DAN TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN INFORMASI DALAM LAYANAN URUN DANA INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM.”
  • “INFORMASI DALAM LAYANAN URUN DANA INI PENTING DAN PERLU MENDAPAT PERHATIAN SEGERA. APABILA TERDAPAT KERAGUAN PADA TINDAKAN YANG AKAN DIAMBIL, SEBAIKNYA BERKONSULTASI DENGAN PENYELENGGARA.”; dan
  • “PENERBIT DAN PENYELENGGARA, BAIK SENDIRI MAUPUN BERSAMA-SAMA, BERTANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA INFORMASI YANG TERCANTUM DALAM LAYANAN URUN DANA INI.”

PENGUNGKAPAN RISIKO PERUBAHAN STATUS EFEK SYARIAH

Efek saham yang ditawarkan melalui platform LBS Urun Dana telah sesuai dengan ketentuan POJK Nomor 17 tahun 2025 dan SEOJK Nomor 3/SEOJK.04/2022. Terdapat risiko perubahan status Efek Syariah beserta konsekuensi yang timbul dari perubahan status tersebut.

Konsekuensi dari perubahan status tersebut antara lain:

  • Efek tersebut dapat mengalami penurunan permintaan atau berkurangnya likuiditas akibat tekanan jual dari investor.
  • Efek tersebut dapat dihapus (delisting) dari platform LBS Urun Dana apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan oleh Penyelenggara, Penerbit tidak melakukan perbaikan yang memadai atas ketidaksesuaian dengan prinsip syariah. Penyelenggara berwenang untuk menghentikan penawaran dan menghapus efek tersebut dari daftar efek yang tersedia di platform sesuai dengan ketentuan dan prosedur internal yang berlaku.

Sebelum melakukan investasi melalui platform LBS Urun Dana, anda perlu memperhitungkan setiap investasi bisnis yang akan anda lakukan dengan seksama. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan analisa (due diligence), yang diantaranya (namun tidak terbatas pada); Analisa kondisi makro ekonomi, Analisa Model Bisnis, Analisa Laporan Keuangan, Analisa Kompetior dan Industri, Risiko bisnis lainnya.

Investasi pada suatu bisnis merupakan aktivitas berisiko tinggi, nilai investasi yang anda sertakan pada suatu bisnis memiliki potensi mengalami kenaikan, penurunan, bahkan kegagalan. Beberapa risiko yang terkandung pada aktivitas ini diantaranya:

Risiko Usaha

Risiko yang dapat terjadi dimana pencapaian bisnis secara aktual tidak memenuhi proyeksi pada proposal/prospektus bisnis.

Risiko Gagal Bayar

Gagal bayar atas efek bersifat sukuk, seperti kegagalan penerbit dalam mengembalikan modal dan bagi hasil/marjin kepada investor.

Risiko Kerugian Investasi

Sejalan dengan risiko usaha dimungkinkan terjadi nilai investasi yang diserahkan investor menurun dari nilai awal pada saat dilakukan penyetoran modal sehingga tidak didapatkannya keuntungan sesuai yang diharapkan.

Dilusi Kepemilikan Saham

Dilusi kepemilikan saham terjadi ketika ada pertambahan total jumlah saham yang beredar sehingga terjadi perubahan/penurunan persentase kepemilikan saham.

Risiko Likuiditas

Investasi anda melalui platform layan urun dana bisa jadi bukan merupakan instrumen investasi yang likuid, hal ini dikarenakan instrumen efek yang ditawarkan melalui platform hanya dapat diperjualbelikan melalui mekanisme pasar sekunder pada platform yang sama, dimana periode pelaksanaan pasar sekunder tersebut juga dibatasi oleh peraturan. Anda mungkin tidak dapat dengan mudah menjual saham anda di bisnis tertentu sebelum dilaksanakannya skema pasar sekunder oleh penyelenggara. Selain itu, untuk efek bersifat sukuk, anda tidak dapat melakukan penjualan sukuknya hingga sukuk tersebut jatuh tempo atau mengikuti jadwal pengembalian modal yang sudah ditentukan.

Risiko Pembagian Dividen

Setiap Investor yang ikut berinvestasi berhak untuk mendapatkan dividen sesuai dengan jumlah kepemilikan saham. Seyogyanya dividen ini akan diberikan oleh Penerbit dengan jadwal pembagian yang telah disepakati di awal, namun sejalan dengan risiko usaha pembagian dividen ada kemungkinan tertunda atau tidak terjadi jika kinerja bisnis yang anda investasikan tidak berjalan dengan baik.

Risiko Kegagalan Sistem Elektronik

Platform LBS Urun Dana sudah menerapkan sistem elektronik dan keamanan data yang handal. Namun, tetap dimungkinkan terjadi gangguan sistem teknologi informasi dan kegagalan sistem, yang dapat menyebabkan aktivitas anda di platform menjadi tertunda.

Kebijakan Keamanan Informasi

Kami berkomitmen melindungi keamanan pengguna saat menggunakan layanan elektronis urun dana dengan:

  • Implementasi ISO/IEC 27001:2022 ISMS guna mewujudkan Confidentiality, Integrity dan Availability informasi.

  • Selalu mentaati segala ketentuan dan peraturan terkait keamanan infromasi yang berlaku di wilayah Republik Indonesia serta wilayah tempat dilakukannya pekerjaan.

  • Melakukan perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement) terhadap kinerja Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Bank Kustodian

  • Peran Bank Kustodian terbatas pada pencatatan, penyimpanan dan penyelesaian transaksi.

  • Bank Kustodian tidak bertanggung jawab atas klaim dan gugatan hukum yg ditimbulkan dari risiko investasi dan risiko-risiko lainnya di luar cakupan peran Bank Kustodian yang telah disebutkan di atas, termasuk kerugian yang ditimbulkan oleh kelalaian pihak-pihak lainnya.

Warning Penipuan atas nama LBS.ID