pendanaan
27 Oktober 2026
Naufal Mamduh
Catat! Bukan Cuma Gimmick, Ini Cara Scale Up Bisnis Ekonomi Kreatif
Sebuah produk mendadak ramai dibicarakan. Unggahannya tersebar, antrian memanjang, dan penjualan naik dalam hitungan minggu.
Perhatian sebesar itu jelas berharga. Promosi yang berhasil menarik konsumen adalah pencapaian tersendiri, dan banyak bisnis bertumbuh justru karena momentum seperti ini.
Persoalannya muncul setelah perhatiannya mereda. Di titik itu, bisnis tetap membutuhkan produk yang relevan, pelanggan yang kembali membeli, dan kesiapan memenuhi permintaan. Di sinilah scale up bisnis ekonomi kreatif menuntut lebih dari sekadar perhatian pasar.
Popularitas Saja Tidak Cukup untuk Mengembangkan Bisnis
Ada 3 hal yang perlu dicermati ketika penjualan bertumpu pada popularitas.
1. Penjualan dapat bergantung pada tren yang berubah
Selera pasar bergerak, dan produk yang hari ini dibicarakan belum tentu masih dicari beberapa bulan kemudian.
2. Perhatian belum tentu berujung pembelian berulang
Sebagian konsumen datang karena penasaran. Mereka mencoba sekali, lalu berpindah ke hal berikutnya yang sedang ramai.
3. Lonjakan permintaan bisa menjadi tantangan
Bila kapasitas produksi dan konsistensi kualitas belum siap, permintaan yang membesar justru berisiko merusak pengalaman pelanggan.
Yang menjadi masalah bukan gimmick atau promosinya. Keduanya alat yang sah dan sering kali efektif. Yang berisiko adalah ketergantungan pada popularitas tanpa strategi bisnis yang menopangnya.
Baca juga: Kick Off! Bukan Cuma Modal, Ini Cara Pegiat Ekraf Unlocking Value Lewat AKSES 2026
Perkuat Fondasi Bisnis Sebelum Memperluas Pasar
Sebelum memperluas pasar, ada 3 hal yang perlu diperkuat lebih dulu.
1. Perkuat nilai pembeda produk
Tanyakan alasan konsumen memilih produk Anda selain karena sedang tren. Bisa berupa rasa, bahan, desain, cerita di baliknya, atau layanan yang menyertainya. Nilai pembeda inilah yang membuat produk tetap dicari ketika tren bergeser.
2. Pahami pelanggan Anda
Evaluasi data penjualan, masukan pelanggan, dan pola pembeliannya. Dari situ terlihat siapa yang benar-benar kembali, produk mana yang paling diminati, dan apa yang perlu diperbaiki. Pengembangan yang berangkat dari data lebih terarah dibanding yang berangkat dari asumsi.
3. Siapkan operasionalnya
Pastikan kapasitas produksi, konsistensi kualitas, persediaan, dan distribusi mampu mengikuti peningkatan permintaan. Produk yang sulit didapat atau kualitasnya naik turun akan kehilangan pelanggan yang sudah susah payah diperoleh.
Rencanakan Scale Up Sesuai Kesiapan Bisnis
Keputusan scale up bisnis ekonomi kreatif sebaiknya berangkat dari kondisi perusahaan, bukan dari momentum tren.
Beberapa hal yang perlu dievaluasi lebih dulu adalah arus kas, margin keuntungan, kapasitas operasional, target pasar yang dituju, serta kebutuhan sumber dayanya.
Dari hasil evaluasi itu, arah pengembangannya bisa ditentukan. Bisa berupa perluasan distribusi, peningkatan kapasitas produksi, atau pengembangan lini produk baru.
Kebutuhan pendanaan juga termasuk aspek yang perlu direncanakan sejak awal, karena setiap pilihan pengembangan punya kebutuhan dana yang berbeda.
Langkah awalnya bisa dimulai dari memastikan bisnis siap ekspansi sebelum menentukan arah pertumbuhannya.
Kembangkan Bisnis Anda Bersama AKSES 2026
Scale up bisnis ekonomi kreatif membutuhkan lebih dari sekadar popularitas. Produk perlu diperkuat, pelanggan perlu dipahami, operasional perlu disiapkan, dan pertumbuhannya perlu direncanakan secara terukur.
Baca juga: Open Call! AKSES 2026 Bawa Semangat Baru, Dari Bisnis Nggak Biasa Jadi Luar Biasa!
Bagi perusahaan yang sedang menyiapkan langkah pengembangan tersebut, AKSES 2026 dapat menjadi salah satu program yang dipertimbangkan untuk mempelajari peluang pendanaan usaha.
Perusahaan yang ingin mengajukan pendanaan melalui LBS Urun Dana perlu memenuhi sejumlah kriteria awal, yaitu:
- Bentuk badan usaha: Perseroan Terbatas (PT).
- Usia operasional: minimal 3 tahun.
- Omzet: minimal Rp500 juta per bulan, dengan omzet tahunan sekitar Rp6–7 miliar sebagai acuan.
- Laporan keuangan: memiliki laporan keuangan profesional untuk 2 tahun terakhir.
- Kebutuhan pendanaan: Rp2–10 miliar.
- Rencana penggunaan dana: jelas dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan usaha.
LBS Urun Dana membuka peluang pendanaan bagi berbagai sektor, termasuk transportasi dan logistik, fashion dan manufaktur, kuliner dan hospitality, konstruksi dan properti, pergudangan dan FMCG, pertanian dan perkebunan, serta pengadaan dan distributor. Perusahaan di sektor ekonomi kreatif dapat mendiskusikan kesesuaian bidang usaha dan kebutuhan pendanaannya dengan tim LBS Urun Dana.
Pelajari informasi program dan daftarkan perusahaan Anda melalui halaman pendaftaran AKSES 2026. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Esa melalui WhatsApp.
Pemenuhan kriteria awal tidak otomatis menjamin pengajuan disetujui atau seluruh kebutuhan pendanaan terpenuhi. Pengajuan tetap mengikuti proses evaluasi dan ketentuan yang berlaku.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






